English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

SEJARAH PERJALANAN KULINER KHAS BETAWI

Senin, 19 April 2010

PRAKATA

Orang Betawi mempunyai beragam aneka masakan lezat. Sayangnya, beberapa di antaranya kini mulai punah. Siapa yang tak suka dengan Soto betawi yang gurih dan manis lezat itu? Siapa pula yang tidak tergoda dengan jajanan khas Betawi tahunan di daerah-daerah cagar budaya Betawi bernama Kerak Telor? Selain dua sajian populer ini, Betawi masih memiliki banyak makanan lezat lainnya. Hanya saja, saat ini semua hidangan khas Betawi bisa kita dapatkan dengan mudah. Beberapa di antaranya bahkan telah punah. Kita perlu prihatin akan begitu banyaknya unsur-unsur kuliner Indonesia yang telah sirna. Kalau bukan kita yang memang suka dan doyan makan serta peduli pada warisan budaya kuliner, lalu siapa lagi yang mau dan mampu melestarikannya?

Menetap di Jakarta, bekerja di Jakarta, ataupun sekadar mampir ke Jakarta, akan terasa keterlaluan bila tak mencicipi menu khas Betawi. Ada Nasi Uduk, Lontong Sayur,  ataupun Ketoprak bertebaran di Ibu Kota ini. Jakarta, sejak jaman dulu, memang telah menjadi melting pot, tempat bercampuraduknya berbagai anasir budaya, bahkan bisa di bilang salad bowl aneka budaya dari Belanda, Portugis, Tionghoa, Arab, India, Jawa, Melayu, Betawi Asli -- yang semuanya dicampur menjadi satu adonan dan tampilnya unik khas Betawi, sama persis dengan tampilan beragam makanannya.

Semakin berkembangnya kota Jakarta dari tahun ke tahun membuat masyarakat Betawi asli yang dulunya memiliki tanah-tanah yang luas di tengah-tengah kota makin tersisih. Tanah-tanah yang dahulunya merupakan lahan-lahan perkebunan buah-buahan dan pertanian kini berubah menjadi komplek gedung-gedung pencakar langit, ditambah lajunya urbanisasi memaksa mereka pindah ke daerah tepian kota Jakarta. Meskipun terdesak, hasrat melestarikan budaya nenek moyangnya tidaklah luntur. Daerah-daerah ayng masih banyak bermukimnya warga Betawi asli yaitu, Tangerang, Bekasi, Kelompok Kecil di tengah kota seperti di Kebon Jeruk, Kebon Kacang, Ciputat, Tenabang, Kebayoran Lama dan Kampung Melayu. Sisanya tersebar di lima wilayah Jakarta.

BETAWI SELAYANG PANDANG
Betawi adalah cikal bakal munculnya kota metropolitan Jakarta. Betawi juga menjadi sebutan bagi penduduk asli Kota Jakarta dengan budaya dan sejarahnya yang dinamis. Sejarah Betawi tak lepas dari pengaruh budaya China dan Belanda yang pernah mendominasi kota Batavia beberapa abad lalu.

Di tahun 1740 orang-orang China merantau di kota Batavia memberontak kepada pemerintahan Belanda. Namun para pemberontak ditumpas oleh Kompeni dan tidak lagi diperbolehkan tinggal di dalam tembok kota. Percampuran dan pembauran etnis serta budaya asli Betawi dengan kaum pendatang pun berlanjut. Pusat pemerintahan Belanda dipindahkan dari wilayah utara Batavia ke wilayah baru di sebelah selatan tepatnya di kawasan Medan Merdeka. Perumahan-perumahan mewah pun dibangun di antaranya rumah Gubernur Jenderal Belanda yang sekarang menjadi Istana Negara. Pelabuhan baru pun didirikan di Tanjung Priok, karena Sunda Kelapa sudah tidak sanggup lagi menampung banyaknya kapal-kapal yang datang berlabuh.

Pada awal abad ke 20 Batavia berkembang menjadi sebuah kota besar dengan penduduk lebih kurang 116.000 jiwa. Mei 1942 pada awal perang dunia ke-2, pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa dan menduduki Batavia, dan nama Batavia diganti menjadi Jakarta. Nama yang terus dipakai hingga sekarang ini.

Perkembangan kota Jakarta sebagai kota metropolitan dan ibukota negara ini semakin pesat di masa pemerintahan Orde Baru. Mayoritas penduduk asli Betawi yang menetap di tengah kota mulai menjual tanahnya dab pindah ke pinggiran Jakarta seperti Kebayoran, Condet dan Jagakarsa. Untuk melestarikan budaya Betawi dari kepunahan, di tahun 1970-an pemerintah menetapkan Condet sebagai kawasan cagar budaya Betawi.

Kuliner Betawi yang Nyaris Punah
Perjalanan sejarah Betawi tentu saja mempengaruhi budaya dan pola kehidupan masyarakat Betawi. Salah satunya terlihat dari keragaman kulinernya. Pengaruh tradisi China misalnya tampak dari beberapa jenis makanan Betawi. Contohnya penggunaan bahan dasar tahu dan masakan berbahan ikan seperti ikan Cing Cuan. Yang terakhir ini adalah sajian dari ikan ekor kuning atau ikan pisang-pisang yang diberi bumbu tauco.

Selain China, masakan Betawi juga dipengaruhi oleh budaya Arab dan Eropa. Jika Anda menyantap Nasi Kebuli atau Gule itu adalah sajian khas Betawi yang kuat dipengaruhi budaya Arab. Sementara sentuhan budaya Eropa, terasa pada sajian khas Betawi seperti Semur Jengkol atau Lapis Legit. Semur (bisa juga Gabus Pucung) dan Lapis Legit sangat dipengaruhi oleh Steak dan Cake dari Eropa.

Masyarakat Betawi memiliki banyak makanan lezat. Sayang beberapa di antaranya kian punah. Siapa tak suka dengan Soto Betawi yang gurih dan manis itu. Atau kudapan bercita rasa khas seperti Kerak Telor. Selain dua sajian ini, Betawi masih punya banyak makanan lezat lainnya. Hanya saja sekarang ini tak semua hidangan khas Betawi dapat dijumpai dengan mudah di jakarta. beberapa di antaranya sudah bisa dikatakan telah punah.

Ciri khas hidangan betawi adalah citarasa gurih dan sedap. Masakan Betawi yang masih bertahan dan bisa dinikmati masyarakat bisa dihitung dengan jari. Beberapa di antaranya cukup populer yaitu Soto Betawi, Kerak Telor, Nasi Uduk dan Nasi Ulam. Bahkan tak sedikit orang yang bukan asli Betawi menjual sajian asli khas Betawi ini.

Contoh masakan langka namun paling khas dan unik yang dimiliki masyarakat Betawi adalah Ketupat Babanci. Sesuai dengan namanya, Ketupat Babanci adalah masakan dengan unsur utama ketupat yang disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai dan rempah-rempah. Salah satu rempah-rempah yang sudah tak dapat lagi dijumpai di daerah Jakarta adalah buah Jali-jali. Kini tumbuhan buah Jali-jali hanya bisa dijumpai budidaya tumbuhannya di negeri Belanda. Dulu ketika Jakarta masih memiliki banyak semak belukar, tumbuhan Jali-jali tumbuh bebas di rerumputan tanah lapang. Seiring dengan hilangnya lahan luas dan rerumputan liar, maka hilang pula lah tumbuhan buah Jali-jali yang menjadi bahan dasar rempah bumbu Ketupat Babanci.

Sajian khas Betawi di hari-hari istimewa seperti Lebaran dan syukuran kini menjadi menu tradisional yang dinanti. Sajian yang paling umum hadir di meja makan masyarakat Betawi saat Lebaran adalah Ketupat Sayur, Sambal Godok dan Semur. Orang Betawi zaman dahulu bila mengadakan syukuran, tahlilan, maulid dan sejenisnya, selalu menyajikan Nasi Berkat. Dibungkus daun jati atau teratai, Nasi Berkat dilengkapi dengan Semur, Pesmol Bandeng,  Gulai Buncis, Serundeng dan Perkedel. Tapi kini Nasi Berkat telah mulai dilupakan dan hilang dari tradisi Betawi.

Orang Betawi punya menu spesial untuk sarapan yakni Pindang Bandeng. Karena disantap waktu sarapan, orang Betawi sengaja memasak bandeng saat sore hari. Begitu pagi hari, Pindang Bandeng langsung dihangatkan dan dinikmati dengan sisa nasi semalam. Menu sarapan lain adalah Nasi Ulam. Namun yang banyak dijajakan sekarang ini dengan Semur Tahu dan Telur, bukanlah Nasi Ulam asli Betawi. Karena, Nasi Ulam asli Betawi disajikan dengan bumbu sambal terasi dan bumbu urap.

Selain Pindang Bandeng, orang Betawi memiliki sajian berbahan ikan lainnya. Sebut saja misalnya Pecak Lele, Gurame dan Ikan Emas. Ada pula sayur Gabus Pucung (kluwek, kluak) dengan ikan gabus yang diolah dengan bumbu kluwak (black nut = kacang hitam). Sayangnya jarang Betawi yang mengolah masakan ini, disamping sulitnya ternak ikan gabus kanibal bila diternak (ikan gabus cenderung memangsa anak-anaknya sendiri), namun begitu masih ada beberapa warung makanan khas masakan Betawi yang menyajikan masakan ikan liar gabus ini. Sajian paling unik dari ikan adalah Pepes Ikan Belanak. Dan seperti halnya Gabus Pucung, Pepes Ikan Belanak juga sudah langka.

Bagi Anda yang ingin merasakan wisata kuliner asli khas Betawi, cobalah mencarinya dengan berkeliling Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi. Dan ternyata tidaklah perlu jauh-jauh mencari masakan unik khas Betawi di wilayah sekitar Jakarta.

KAMUS KULINER BETAWI

Nasi Uduk
Masakan Betawi yang paling populer ini masih mudah ditemui di hampir semua pelosok di lima wilayah Jakarta. terbuat dari beras putih yang dimasak dengan santan kelapa, serta dibumbui garam, daun serai, daun salam dan daun jeruk. Rasanya sangat gurih dan nikmat, terutama bila disantap saat masih hangat mengepul. Biasanya nasi uduk ditemani lauk pauk seperti ayam goreng, tahu goreng, telur dadar yang diiris-iris, abon dan tempe kering yang dipotong-potong tipis dimasak manis. Nasi Uduk juga disajikan dengan bawang goreng, emping goreng (beberapa tempat diganti dengan kerupuk kecil warna-warni), timun dan tentunya sambel kacang.

Nasi Ulam
Bedanya dengan Nasi Uduk, Nasi Ulam dibuat dari nasi biasa, tidak dimasak dengan santan. Ciri khasnya adanya taburan serundeng kelapa di atas nasi putih. Kemudian juga tambahannya seperti tempe goreng, tempe goreng tepung, dadar telur, sedikit taoge, ketimun iris dan daun semanggi. Tidak lupa juga kerupuk, emping serta bawang goreng. Nasi Ulam adalah bukti hadirnya pengaruh dari berbagai budaya kuliner yang pernah singgah ke Jakarta.

Dendeng dan Bihun Goreng merupakan pengaruh budaya Tionghoa. Perkedel merupakan "sumbangan" Belanda. Semur mempunyai kemiripan dengan Calderada dari Portugis, atau juga mirip dengan kebanyakan hidangan Belanda yang dimasak secara braising (merebus). Tempe goreng dan rempeyek kacang adalah budaya Jawa. Nasi Ulam selalu disajikan dalam acara hajatan di daaerah Kampung Melayu, Bali Mester (sekarang Jatinegara) dan sekitarnya.

Pindang Bandeng
Biasanya disantap dengan menu sarapan orang Betawi, seperti halnya Nasi Uduk. Kuah pada Pindang Bandeng hapir enyerupai Semur, tapi bedanya ada tambahan belimbing wuluh di dalamnya. Rasanya sangat lezat dan segar apalagi bila dimakan dengan nasi putih.

Gurame Pecak dan Gabus Pucung
Gurame Pecak adalah sajian ikan berkuah. Kuah pecak tampilannya mirip kuah bumbu rujak, berwarna kekuning-kuningan dengan santan pekat. Kuah santan itu dimasak dengan bumbu kuning, kemiri, kacang tanah, bawang merah dan bawang putih, kencur serta garam. Sedangkan Gabus Pucung yang juga hidangan ikan berkuah, memiliki kuah berwarna kehitaman karena bahan utamanya adalah pucung atau orang Jawa mengenalnya sebagai kluwak. Tampilan kuah pucung mirip dengan rawon dari Jawa Timur. Sedangkan bumbu-bumbunya adalah cabai, bawang merah, bawang putih, kencur, jahe dan kunyit.

Ketupat Babanci dan Ketupat Sayur
Masakan khas Betawi ini sudah sangat langka dan sudah tidak ada lagi yang menjual. Seperti namanya maka unsur utama sajiannya adalah ketupat. Ketupat ini disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu rempah seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, dan buah jali-jali (tumbuhan ini sudah punah dari tanah Jakarta). Selain Ketupat Babanci, sajian ketupat lainnya yang dikenal oleh orang Betawi adalah Ketupat Sayur.

Ketupat sayur adalah ketupat yang disajikan dengan sayur labuh (atau pepaya muda yang diris halus) dengan santan yang dimasak dengan bumbu kemiri, kunyit, bawang merah, bawang putih serta potongan ebi (udang kering) dan biasanya dihiasi dengan sambel goreng. Biasanya juga dinikmati dengan potongan ayam sayur dan juga ditambahi dengan kerupuk kecil warna-warni atau emping.

Soto Tangkar, Sop Buntut dan Sop Kaki Sapi
Soto Tangkar adalah soto berkuah santan yang berisi tangkar (potongan daging tulang iga), sedangkan Sop Buntut adalah masakan sop dari tulang buntut sapi dan Sop Kaki Sapi juga masakan sop dari tulang kaki sapi. Sejarah lahirnya soto dan sop ini berawal pada saat penjajahan Belanda. Pada masa itu, masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar, buntut dan kaki sapi yang hanya berdaging sedikit untuk kemudian diolah menjadi sajian yang enak. Tapi sekarang Soto Tangkar dapat ditambahkan dengan daging dan beragam jeroan sapi sesuai selera. Walaupun kuahnya menggunakan santan, Soto Tangkar tidaklah termasuk kategori "berat". Lain halnya Sop Buntut dan Sop Kaki Sapi yang dimasak tanpa santan sehingga lebih bening namun lebih berkaldu sapi. Ketiga sajian ini sangat dipengaruhi dengan budaya Belanda.

Soto Betawi
Soto Betawi juga diisi dengan jeroan, bahkan organ-organ lain seperti mata sapi, torpedo termasuk hati. Seperti halnya Soto Tangkar kuahnya adalah santan, namun banyak juga penjual Soto Betawi yang menggunakan susu sebagai kuah kentalnya.

Bubur Ase
Seperti halnya Ketupat Babanci, Bubur Ase sebagai makanan khas Betawi sudah sangat jarang dijumpai penjualnya. Istilah "Ase" sendiri artinya adalah kuah semur yang encer. Bubur Ase adalah bubur nasi yang disantap dengan kuah semur, tetelan, potongan tahu dan kentang. Kemudian ada tambahan potongan ketimun, lobak, lokio, sawi asin, taoge dan sedikit cuka. Sebagai pelengkap ditaburi kacang tanah goreng, emping dan kerupuk, serta sambal cabai rawit merah diulek.

Gado-Gado dan Ketoprak
Apa bedanya Gado-gado dengan Ketoprak? Bedanya di dalam Ketoprak tidak ada sayur-sayuran seperti dalam Gado-gado. Ketoprak hanya terdiri dari lontong atau ketupat, taoge, bihun basah, ketupat potongan tahu goreng, yang disiram dengan bumbu kacang. Bumbu kacang pada Ketoprak lebih banyak menggunakan bawang putih sehingga wanginya lebih menyengat. Selain itu Ketoprak ditambahi kecap manis dan tentunya kerupuk. Ketoprak juga biasanya dijajakan berkeliling dengan gerobak dorong. Dengan harga murah makanan berisi lontong atau ketupat, tahu, taoge, bihun, kerupuk dan bumbu kacang ini menjadi santapan andalan masyarakat Jakarta seperti halnya Bakso.

(tulisan bersambung....)
Sidik Rizal

Warung Besan Kalimalang: Kombinasi Menu Sunda Betawi

Sabtu, 02 Januari 2010

Menu Betawi Jadul Nan Nyaris Punah Harga pun Jadul Punya

Gabus Pucung, Sayur Besan, Ketupat Babanci, Semur Jengkol di Restoran Bergaya Penggede


Bekasi, kelanakuliner.com
Telepon saya berdering saat sedang mewawancarai narasumber kelanakulner.com, dan ternyata itu datangnya dari HP pak Lili juworo sang pemilik serta pengelola Warung besan yang meminta saya untuk datang dan menikmati menu unggulannya yang sudah akan diluncurkan keesokan harinya, yakni gabus Pucung.

Tak lebih dari satu jam, saya pun meluncur ke Warung Besan untuk segera melihat, merasakan dan bukan sekadar mencicipi menu unggulan warung khas Betawi jadul itu. Ternyata saya tidak sendiri ada mas Didit di sana, si wartawan BeritaJakarta.com yang juga diundang oleh pak Lili. "Sebenarnya saya juga mengundang pak Bondan Winarno untuk datang dan menikmati Gabus Pucung ini, tapi sepertinya dia lagi sibuk. Katanya dia hanya mau datang kalau Sayur Babanci (saya pikir Ketupat Sayur Babanci) yang asli masakan orang Betawi asli sudah siap disajikan di sini." jelasnya sambil menegaskan bahwa pak Bondan hanya mau datang kalau Sayur Babancinya benar-benar asli, bukan Babanci-babancian (hehehe saya pikir sayur kebanci-bancian dong kalau nggak asli).

Wuiihhh., ketika saya merasakan sayurnya yang "audzubillah" gurih tapi tanpa menggunakan mecin (vetsin) itu, memang luar biasa lezat. Hmmm top markotop lah kalau meminjam istilahnya pak Bondan, saya sih bilang mantabs 2 rakaat! (haha paan lagi tuh?)

Kayaknya para pecinta masakan betawi gak bakalan nyesel bila menikmati makanan itu di rumah makan yang selalu ramai dengan pengunjung berkendaraan motor ini dari hari ke hari. "Ini memang sudah saya rencanakan, saya mau rumah makan ini bisa melayani mereka yang tidak berkantong tebal dan kenyang serta puas keenakan," papar si pengusaha yang sangat peduli dengan rakyat lemah ini. Hal ini pun dibuktikan dengan banyak dari proyek-proyeknya yang sangat berpihak kepada orang miskin seperti pabrik jamu untuk penyakit-penyakit berbahaya yang hanya bisa diobati dengan obat-obatan mahal. Dia sendiri pernah merasakan kesulitan saat anaknya sakit dan dirawat di RS Pondok Indah, untungnya anaknya berhasil disembuhkan, tapi dia begitu terkejut dengan obat-obatan yang harus dibelinya sungguh fantastis harganya dan bagaimana mungkin orang miskin bisa selamat dan disembuhkan dengan harga obat yang tinggi seperti yang dialaminya. Kepeduliannya kepada orang lain dan tidak perduli dengan keuntungan banyak  inilah yang membuatnya berprinsip harus bisa menghadirkan masakan khas Betawi seperti pada masanya dulu, "Masakan Betawi pada dasarnya adalah masakan kepepet orang Betawi yang bisa makan dari apa yang ada, namun tetap nikmat. Kondisi bangsa kita pada masa penjajahan Belanda dulu tidaklah mewah, tapi orang Betawi dan Sunda bisa mempunyai menu masakan yang luar biasa nikmat, dan pantas disajikan hingga kini," imbuhnya kepada kelanakuliner.com

Saat melihat Warung Besan di Jalan Raya Kalimalang no 37 Sebelah Capem BCA dan BTN, Pondok Kelapa, Jakarta Timur yang masih dihiasi karangan bunga sehari setelah soft launching, saya pun langsung tertarik untuk mengunjunginya. Tak perlu repot saya pun langsung bertemu dengan sang pengelola Lili Juworo, lelaki paruh baya asli kelahiran Betawi yang sejatinya adalah seorang pengusaha kerajinan Cetak Kaca Hias terkemuka di Bogor.


Kecintaannya kepada menu asli Betawi dan nostalgianya pada masa Betawi dimana ia masih mengalami masa-masa sulit dengan makanan khas Betawi yang serba apa adanya inilah yang menyebabkan ia ingin membuat sebuah rumah makan khas Betawi. Anehnya lagi Lili Juworo tidak memikirkan keuntungan, hal ini bisa dilihat dari harga yang dibandrol benar-benar harga terjangkau bagi para pengendara motor, demikian ujarnya kepada kelana kuliner.com Jum'at 01/01/2010 lalu.




Untuk meyakinkan diri saya, Lili menawarkan menu sajian khas Betawi yang nyaris sulit untuk dijumpai lagi, yakni Sayur Besan. (Padahal saya mengharapkan Ketupat bersayur Babanci, yang memang nyaris punah itu). Tapi tak apalah, menikmati paket Sayur Besan komplit dengan nasi ini saja sudah bikin saya kleweh-kleweh nikmat dan ditambah dengan Es Campur Besan. Pokoknya mantep berat Bro and Sis!

Berikut akan saya sajiakan laporan lengkapnya, namun berhubung ada persiapan lain hal, maka kami lampirkan saja tulisan terkait yang berhubungan dengan launching Warung Besan yang mempunyai interior dan sajian menunya yang mewah namun harganya jauh dari mewah.


baca saja tagline yang ada di brosurnya:
 





Masakan Betawi Jadul dan Masakan Sunda..!!
GABUS PUCUNG, SAYUR BESAN,

Semur Jengkol, Sambel Gandaria, Gurame Cobek
Sambel dan Lalap gratis!



Tulisan terkait sumber Berita Jakarta

Warung Besan Kolaborasi Kuliner Betawi-Sunda


didit/beritajakarta.com

Masakan khas Betawi dan Sunda sudah lama memiliki penggemarnya sendiri. Kekayaan cita rasa dan keragaman jenis makanan menjadi keunggulan tersendiri buat kuliner asal kedua daerah tersebut. Namun, tak banyak rumah makan yang menggabungkan kekhasan makanan kedua daerah itu, kecuali di Warung Besan.


Warung yang berlokasi di Jl Raya Kalimalang, Pondokkelapa, Jakarta Timur, ini siap memanjakan keinginan tamu yang ingin mencicipi nikmatnya menu masakan khas Betawi Sunda tersebut. Berbagai menu masakan tradisional dengan racikan bumbu turun-temurun menjadi sajian andalan di rumah makan bergaya sederhana itu. Sebut saja, sayur besan khas Betawi, soto Bandung, gepuk, dan cumi sotong menjadi sajian nikmat dan tak terlupakan jika berkunjung ke tempat itu. Terlebih, semua menu yang disajikan merupakan hasil racikan juru masak yang telah lama malang melintang di dunia kuliner tradisional.


Epen Pendi (42), juru masak Warung Besan mengatakan, menu masakan yang ada di Warung Besan merupakan makanan khas daerah Betawi dan Sunda. "Masakan Sunda dan Betawi lebih khas pada rasa yang manis atau pedas. Kita lebih menajamkan rasa pada setiap masakan. Ini yang tidak ditemui di warung makan khas daerah tertentu di Jakarta," ujar Epen dengan nada bangga.

Epen membuka sedikit rahasianya dalam mengolah gurame cobek menjadi makanan yang spesial. Di tangannya, gurame diolah dengan campuran bumbu seperti, kencur dan jahe sehingga membuat rasa gurame menjadi lebih segar. Untuk memasukkan unsur pedas layaknya masakan Sunda lain, Epen menambahkan bumbu yang telah diracik dengan sedikit cabe merah.


"Untuk membedakan rasanya, trik yang diandalkan oleh Warung Besan adalah ketajaman rasanya, dan itu tak ditemui di warung makanan tradisional lainnya," jelas pria kelahiran Bandung 42 tahun lalu ini kepada beritajakarta.com, Selasa (15/12).

Selain gurame cobek, lanjut Epen, masakan Betawi kuno yang sekarang sudah mulai hilang semacam pucung gabus dan sayur babanci juga menjadi andalan rumah makan itu dalam memanjakan lidah pengunjung. Puas menikmati sajian makanan, pengunjung pun bisa menikmati enaknya jus jali-jali. Semua jenis masakan itu bisa dinikmati pengunjung hanya dengan merogoh kocek antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Sebuah harga yang murah, untuk kenikmatan lidah yang tiada tara.


"Buah Jali-jali dulu banyak dijumpai di Indonesia, namun saat ini sudah tidak ada lagi. Jus Jali-jali buahnya kita datangkan langsung dari Belanda. Semua demi pelestarian makanan atau minuman khas daerah Betawi dan Sunda," kata Lili Juworo, pemilik rumah makan Warung Besan tersebut.

WARUNG BESAN
Jl. Kali Malang Raya No. 37 Kav 3C-D
(sebelah Capem BCA BTN dan Burger Grill)
Pondok Kelapa
Jakarta Timur
Kalimalang

Tel. (62 21) 8543 9388

penulis: didit
editor: sidik rizal

ROPITA Aneka Rasa Kelapa Gading

Rabu, 23 Desember 2009

Kesetiaan Mengutamakan Rasa
Berdiri sejak 1982


Kelapa Gading - kelanakuliner.com
Setelah mengambil raport sang jagoanku, Nur Muhammad (Rizal Jr.), saya pun meneruskan kelana kuliner dalam perjalanan pulang menuju Pulogebang. Saat menyisiri jalan dari sekolah anakku, SMA Negeri 45, banyak juga warung makan dan kedai makan yang mempunyai sajian sedap sekejap. Sebagai contoh, saya begitu tertarik dengan Ropita Aneka Rasa, salah satu warung Roti Bakar yang konon begitu banyak bertebaran dengan merk ropita. Ropita sendirti adalah singkatan dari Roti, Pisang dan Tape, dan jangan heran bila di daerah Kelapa Gading ada banyak Ropita-Ropita lain yang bisa ditemui. Untuk Ropita Aneka Rasa, adalah salah satu warung Roti, Pisang dan Tape paling lama di Jakarta.


Bermula di tahun 1982, Kusa Sanjaya, lelaki berdarah Sunda kelahiran Kuningan, 49 tahun lalu membuka warung roti bakar di bilangan TIM (Taman ismail Marzuki) Jakarta Pusat, dekat sebuah kolam renang yang kini telah digusur berganti dengan sebuah hotel berbintang 1. Dalam menjalankan usaha roti bakar itu, Kusa dibantu seorang asisten yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri, Eme, yang kemudian hari menjadi tangan kananya untuk menjalani usaha Ropita di wilayah Kelapa Gading.

Menjalani usaha yang jatuh bangun serta penuh perjuangan akhirnya mendapatkan sebuah tempat di daerah Kelapa Gading, yang padaa saat itu baru saja selesai dibangun dan dipasarkan oleh developernya. Komplek Kelapa Gading sendiri belum ramai dihuni pada masa itu. membangun usaha dari sepi dan mulai bertahap kian ramai ini dilalui bersama sang anak buahnya yang setia mengikuti, Kang Eme.


Kang Eme (sumber lain menyebutkan kang Meme) sendiri setelah bertahun-tahun mengikuti sang majikan, pak Kusa merasa jenuh. Kemudian secara baik-baik ia mencoba peluang lain dan dia mendapat izin dari paki Kusa. Tapi rupanya pekerjaan baru yang mulai ditekuninya tak bisa bertahan lama, dan setelah itu kang Eme malah menganggur. Untungnya pak Kusa mengetahui hal tersebut, kembali Eme ditawari kerja untuk mengelola usaha dagang roti pisang dan tapenya di wilayah baru. Eme pun kembali bekerja dan merintis usaha bersama sang bos.


Eme, lelaki kelahiran Sumedang tanggal 04 Januari 1964 ini pun berhasil membangun usaha Ropita Aneka Rasa di wilayah Kelapa Gading, tepatnya di komplek apartemen WGP (Wisma Gading Permai), Di cabang ini Ropita Aneka Rasa mempunyai sedikitnya 40 kursi (10 meja) dengan karyawan sekitar 10 orang yang menangani 2 cabang di wilayah Kelapa Gading. Satu di Apartemen WGP dan satu lagi di Komplek HII Kelapa gading dekat SMAn 45 Jakarta Utara.

Kini Ropita Aneka Rasa telah mempunyai sedikitnya 5 cabang, mulai dari yang di Kalimalang, kemudian Food City Kota Wisata Cibubur, Komplek HII Kelapa gading, Apartemen WGP dan Cikini. Setiap ada cabang baru yang barui dibuka, biasanya Eme melepas salah satu anak buahnya sehingga proses pembinaan karyawan berlangsung dan jenjang karir karyawan terealisasi.

ROTI PISANG TAPE BAKAR PERTAMA di KELAPA GADING


Kalau ditanya apa bedanya Ropita Aneka Rasa dibandingkan dengan Ropita lain yang ada di seluruh Jakarta, maka mungkin keberaniannya menaburkan bumbu yang lebih berani (swear, berani banget! nggak takut rugi), misalnya saja Roti Pisang Keju Coklat. Yang namanya keju dan coklat bisa jadi lebih banyak dibandingkan roti dan pisangnya, demikian pula masakan lainnya. Inilah yang membuat Ropita Aneka Rasa jauh lebih populer dan disukai para pelanggannya dibandingkan ropita-ropita lainnya.

bahkan satu blogs menuliskan bahwa Ropita Aneka Rasa, "sekali dicoba langsung disuka". Dan kelanakuliner menganggap itu tidaklah berlebihan, pada kenyataannya saat kelanakuliner menikmati Roti Keju Coklatnya, yang didapat adalah tumpukan keju membungkus 2 tangkup roti yang isinya adalah coklat lezat. Hmmm, sepotong kecil seukuran sendok makan saja sudah bikin saya kenyang. Satu porsi, buat mereka yang takut gemuk mungkin bisa untuk dua orang.


Menurut pengakuan sang pengelola, kang Eme, lelaki yang bekerja semenjak tahun 1982 ini, dulu saat pertama kali ia hanya digaji Rp. 80 ribu per bulan. Pada saat itu ia mulai membangun usaha roti bakar bersama sang bos, dan kini dia malah diserahi penuh pengelolaan cabang ropita di wilayah Kelapa Gading. Kini omzetrnya saja untuk cabang Kelapa Gading, bisa hingga ratusan porsi. Jam buka Ropita Aneka Rasa sendiri pun lumayan pagi, mulai dari jam 06.00 hingga jam 12.00 malam. Karena bahan baku ropita adalah kornet dan keju, maka Eme mengaku hanya menggunakan korned yang bermutu seperti kornet merk Pronas. Dan dalam seminggu sedikitnya Ropita Aneka rasa satu cabangnya saja menghabiskan 5 kardus kornet Pronas. 1 Kardus itu berisi 24 kaleng kornet Pronas. Demikian pula susu kental manis yang hanya dia beli dari supermarket terdekat, bisa mencapai 10 karton per minggu. Untuk kejunya, Kang Eme mengungkapkan, hanya menggunakan Keju Kraft, dan dalam seminggu Ropita Aneka Rasa mampu menghabiskan Keju Kraft sedikitnya 4 karton sebulan untuk satu cabang. Berarti untuk 5 cabang, Ropita membutuhkan 20 karton Keju Kraft. Bisa dibayangkan berapa omzetnya bukan?

Untuk sajian mie instan dengan tambahan asesories seperti kornet atau telor, pelanggan akan dimanjakan dengan taburan bumbu yang lebih banyak dibandingkan tempat lainnya. Khusus untuk mie instan, Eme mengakui hanya menggunakan Indomie Goreng dan Indomie Ayam Spesial, bukan yang lain. "Sedikitnya kami membutuhkan 10 kardus Indomie per bulannya, itupun bila sepi." akunya kepada kelanakuliner. Itu berarti sejumlah sedikitnya 480 bungkus indomie.

Sayangnya, usaha dagang Ropita yang dikelola kang Eme ini belum dibranding oleh sponsor manapun, kecuali Kornet Pronas yang memberikan kover buat meja saji dengan flexi brand Kornetku Pronas.

Anda tertarik ingin menikmati Roti Keju Coklat khas ala Ropita Aneka Rasa? Kunjungi saja Kelapa Gading Apartemen WGP atau reservasi langsung dengan kang Eme di nomor telepon 0812.182.0759.

Berikut ini tulisan salah satu blogs tentang Ropita Aneka Rasa dari Jakarta Punya Selera.

"Sekali dicoba pasti disuka"

Kawan nongkrong Jakarta tentunya punya makanan kebangsaan sepanjang masa. Ropita alias roti pisang tape. Nikmatnya makan ropita di malam hari sambil nongkrong gaul memang jelas bikin sensasi tersendiri. Banyak macam-macam santapan yang juga bisa dinikmati di malam hari, seperti Internet alias indomie telor kornet. Dari segi rasa, tentunya kawan Jakarta paling tahu mana yang paling diminati.Begitupun yang disajikan di ropita aneka rasa. Andalan Internet Kejunya sangat tersohor dan dapat sedikit menghangatkan dinginnya udara di malam hari.

Dari segi bahan, tentunya mie bisa menggunakan berbagai macam merk yang dijual di pasaran. Keunggulan yang diberikan ropita aneka rasa dapat kawan Jakarta rasakan dari mulai penampilan mie yang begitu padat berisi, asap mengepul yang membawa terbang aroma gurih, disertai dengan taburan keju parut diatasnya, berpadu juga dengan cincangan daging kornet dan tentunya si mata sapi ataupun telur urak arik menyertai kelezatan internet keju. Paduan lengkap ditambah dengan kuah asin yang juga bisa diberikan sedikit sambal untuk penambah selera menjadikan malam panjang patut dinikmati.

PRB atau juga dikenal akrab sebagai Penggemar Roti Bakar merupakan para pelanggan setia ropita aneka rasa. Dimulai pada awal tahun 1982, pak Kusa Sanjaya, yang lebih akrab dipanggil pak Musa merintis bantal demi bantalan roti dengan beragam hasil kreasinya. Hanya dalam kurun waktu lima sampai dengan tujuh bulan, ropita aneka rasa sudah mendapat tempat di hati ”PRB”. Bayangkan saja, dalam satu malam tak kurang puluhan bantal roti habis dilahap PRB. Pengalamnnya berjualan dari tenda ke tenda pun tak luput dari kejaran petugas keamanan yang bisa mengangkut dua petromak miliknya dalam kurun waktu seminggu.

Namun sejak bulan desember tahun 2000, cabang ropita aneka rasa di kelapa gading bisa dibilang mendapatkan lokasi yang cukup permanen, dengan berada di areal apartemen wisma gading permai, kawan Jakarta tak perlu khawatir untuk mencari lokasinya, tepat berada di dalam areal parkir apartemen wisma gading permai.

”Suasana yang cukup nyaman, bersih dan terawat, enak buat ngobrol-ngobrol. Sambil makan internet goreng, internet keju dan roti kornet. Harganya terjangkau lagi”, jelas para kawan Jakarta bernama Stefanus, Putra dan Febe, yang sedang asyik ngobrol dan bercanda ria.

Nongkrong paling enak mulai jam brapa ya....?
Jam Buka:
Senin - Jum'at Jam 6.00 pagi s/d jam 00.00 wib
Sabtu - Minggu jam 6.00 pagi s/d jam 01.00 wib dini hari.
Komplek Apartemen Wisma Gading PErmai (WGP)
Telepon 0812.182.0759 (pak Meme)
Produk Unggulan: Internet Keju
Lokasi: dalam areal parkir Apartemen WGP
Kisaran Harga: Rp. 10.000 - 15.000,-

Betawi Lekker: Mpok Siti, masakannya asli Jakarte, Ooi!

Minggu, 26 Juli 2009

Soto Betawi, Nasi Uduk, Kerak Telor, Soto Tangkar, Bir Pletok

Jakarta, kelanakuliner.com
Setelah bosan berusaha kuliner menjalankan waralaba milik orang lain bersama suami, Siti Safurah, yang akrab dipanggil Mpok Siti ini mencoba membangun usaha kuliner Betawi Lekker, yang khusus menjual makanan khas Betawi. Dengan modal pengalaman bekerja di usaha catering dan juga membuka usaha catering serta sempat mendapatkan kontrak besar dengan stasiun televisi TPI, ia dan suaminya, Ardi berkeyakinan kuat usahanya akan mendapatkan tempat di hati pelanggannya.

Didorong oleh permintaan beberapa pelanggannya, pengelola F&B beberapa hotel besar yang mengatakan bahwa Soto Betawi masakannya sangat disukai para tamu hotel, maka dia pun bersepakat dengan sang suami untuk membuka rumah makan bernuansa Betawi, ungkap wanita kelahiran Betawi asli ini kepada kelanakuliner.com.

Dari usaha catering ke rumah makan yang rencananya akan dibuka di wilayah Jakarta Timur dekat kantor walikota ini kepada kami. sang suami yang juga sudah beberapa kali dipercaya teman-teman investornya mengelola rumah makan seperti Nasi Uduk Gondangdia, menjelaskan bahwa bila ingin usaha rumah makan maju, maka harga dan konsep menu yang ditawarkan haruslah menarik dan berbeda dengan kompetitor.

Ardi, lelaki berusia 40 tahun ini menjelaskan, RM yang bernuansa Betawi sangat jarang ditemui di Jakarta, walaupun ada tapi kelasnya tidak sesuai dengan pasar yang ada, dan biasanya adalah RM Betawi di hotel berbintang. Sementara untuk rumah makan yang representatif disebut rumah makan layak bagi orang Betawi dengan strategi harga masuk di setiap lapisan masyarakat belum ada. Kondisi yang ada adalah, warung makanan kaki lima seperti Soto Betawi, Soto Tangkar atau Kerak Telor kaki lima memang ramai di Jakarta, umumnya gedung atau bangunan mereka terlalu sederhana. Sebaliknya RM gaya Betawi di hotel-hotel berbintang, terkadang harganya nggak terjangkau buat kebanyakan orang Betawi bila mereka mau berkunjung makan.

Karena itulah, Ardi mengungkapkan, bahwa ia mempunyai konsep membuat RM khas Betawi dengan gaya rumah yang representatif (red. berkelas atas) tapi harganya terjangkau. Ardi sempat mengutip ucapan populer di kalangan usaha kuliner, harga kaki lima, kualitas bintang lima. Dan itulah yang jadi alasan utama dia untuk membuka Betawi Lekker, Mpok Siti masakan khas Betawi Asli.

SidikRizal, dobeldobel.com
----------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan yang berhubungan dengan
KERAK TELOR

mpo sawi ngajarin ngaji dari alip
manggil-manggil si otong yang lagi molor
kuliner betawi yang paling ajip
apalagi kalo bukan si kerak telor

Pantun di atas memang agak memaksa maklum tidak terbiasa. Tapi apakah Anda terbiasa mendengar ucapan seperti ini, ‘Nyari kerak telor? Noh ke PRJ aja!” ?

Sulitnya menemukan penjual kerak telur saat ini menjadikan kuliner khas Betawi ini jadi penganan yang paling diburu di Pekan Raya Jakarta yang diadakan setiap kali Jakarta berulang tahun.

Keberadaan crepes, pizza, burger, hotdog atau makanan-makanan fast food lainnya seakan-akan menggeser beragam jajanan tradisional. Sayangnya masyarakat perkotaan juga yang secara tidak sengaja ‘menyingkirkan’ makanan-makanan warisan nenek dan kakek kita ini ke pinggiran. Sehingga ajang kangen-kangenan makanan tempo dulu hanya dapat ditemukan pada perayaan-perayaan tertentu seperti contohnya Pekan Raya Jakarta ini.

Kerak Telor merupakan salah satu makanan tradisional yang patut dilestarikan. Biasanya para penjual Kerak Telor menjualnya berkeliling menggunakan pikulan. Alat-alat yang digunakan juga sangatlah sederhana. Hanya anglo dan arang untuk pemanasnya dan wajan kecil untuk memasaknya. Tetapi kesederhanaan dan cara mengolahnya yang unik yang sering kali membuat rasa kangen akan dadar telornya masyarakat Betawi ini.

Kenapa dinamakan Kerak Telor?

Kerak Telor terbuat dari beras ketan putih yang terlebih dahulu direndam hingga melunak, telur bebek, ebi yang disangrai, bawang merah goreng, serundeng dan bumbu-bumbu.

Salah satu proses dalam membuat Kerak Telor adalah dengan membalik wajan saat dadar ketan putih yang telah bercampur telur dan bumbu sudah setengah matang sehingga api membakar permukaan dadar hingga tercium aroma bakar yang harum dan dadar mengerak di permukaan wajan.

Jika ingin menikmati Kerak Telor selain di Pekan Raya Jakarta, di Kampung Babakan Setu yang mayoritas penduduknya adalah asli Betawi dan termasuk dalam komunitas lingkungan yang dilestarikan kebudayaannya oleh Pemerintah Jakarta konon penjual Kerak telor masih bisa ditemukan.

Atau ingin mencoba membuat sendiri di rumah berikut resep yang bisa digunakan.

Kerak Telor
Bahan:

  • 100 gr beras ketan putih, dicuci bersih dan direndam dengan air kurang lebih 2 jam
  • 4 butir telur bebek
  • 4 sdm bawang goreng
  • 4 sdm serundeng
  • 4 buah cabai rawit, iris halus
  • 2 sdt garam
  • 1 sdt lada bubuk
  • 1 sdt gula pasir
  • 4 sdm ebi bubuk

Cara membuat:

  1. Panaskan wajan kecil hingga cukup panas
  2. Masukkan 50 gr ketan yang sudah direndam beserta airnya, tutup dan masak kurang lebih 2 - 3 menit
  3. Masukkan 2 butir telur
  4. Tambahkan 2 sdm bawang goreng, 2 sdm serundeng, 2 sdm ebi, 2 buah cabai rawit, 1 sdt garam, 1/2 sdt lada bubuk dan 1/2 sdt gula pasir, aduk rata.
  5. Ratakan disisi wajan lalu tutup dan masak kembali hingga harum
  6. Balik wajan hingga kerak telor terjilat api
  7. Angkat kemudian taburi dengan serundeng dan bawang goreng
  8. Nikmati saat panas

Untuk 2 buah

disana gunung disini gunung
hei sayang disayang ditengah tengah ditengah tengah kembang melati
disana bingung disini bingung sayang
samalah sama samalah sama menaruh hati

.. menaruh hati pada si kerak telor :mrgreen:

Artikel Unggulan

Pasang AC Anti Virus Bakteri

Melindungi anggota keluarga dan semua orang dalam satu ruangan tanpa perlu masker

Pasang Iklan Anda Di Sini!

Pengusir Jin Setan

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2021. Comedy Club Indonesia - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger